Halo semua! Kali ini saya akan membagikan cerita perjalanan saya tahun lalu ke salah satu tempat di Nusa Tenggara Barat. Ya sesuai judulnya, indah itulah kata yang ada dibenak saya saat pertama kali berkunjung ke Lombok.
Saya dan teman saya sampai di Bandara Internasional Lombok sekitar pukul 15.00 WITA, kami dijemput driver dari villa tempat kami menginap. Sebelum sampai ke penginapan, kami langsung menuju Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah.
Dusun ini merupakan desa wisata dan sudah terkenal, banyak dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara. Dusun ini juga masih mempertahankan adat suku Sasak. Di depan pintu masuk kami disambut salah satu penduduk asli Dusun Sade yang sekaligus menjadi tour guide kami untuk berkeliling dusun.
Tour guidenya tidak sembarangan lho, yaitu penduduk asli dusun ini. Sebut saja A, (maaf ya mas saya lupa nama masnya hehe). Sambil berjalan, beliau dengan ramah menjelaskan bangunan-bangunan yang di dusun ini.

Dusun Sade memiliki beberapa jenis bangunan yaitu Bale Bonter; rumah para pejabat desa, Bale Kodong; rumah untuk orang-orang yang baru menikah tapi belum punya tempat tinggal, istilahnya rumah sementara gitu gengs. Selanjutnya Bale Tani; rumah masyarakat yang sudah berkeluarga dan kebanyakan berprofesi sebagai petani.
Ada fun facts dari bangunan rumah di Dusun Sade, 1) bangunan rumahnya sama semua, 2) rumahnya tahan gempa, kok bisa ? Ya, rumahnya terbuat dari kayu, ditopang balok penyangga sambung pasak sebagai pilar rumah, dindingnya dari anyaman bambu, atapnya dari alang-alang kering. Lantai rumah terbuat dari campuran tanah liat.
Saya dan teman saya juga diizinkan untuk masuk ke salah satu rumah penduduk. Saya sempat bertanya, di mana penduduk Dusun Sade mandi, karena di dalam rumah tidak ada kamar mandi. Ternyata ada tempat khusus penduduk untuk mandi.
Tour Guide melanjutkan bercerita, untuk membersihkan lantai mereka menggunakan kotoran kerbau/sapi tujuannya untuk menguatkan lantai dan mencegah serangga seperti nyamuk masuk ke dalam rumah. Wah unik ya hehe.
Jadi, bangunan rumah di sini terbuat dari bahan-bahan yang ringan dan pondasi yang kuat. Itulah kenapa disebut sebagai rumah yang mampu menahan guncangan gempa.
Beliau menyampaikan di Dusun Sade punya tradisi unik dalam perkawinan, jadi saat akan menikah sang perempuan harus diculik terlebih dahulu oleh pihak laki-laki (kalian jangan memikirkan negatif ya, ini konteksnya sama-sama suka, jadi seolah-olah diculik begitu hehe). Lalu, calon pengantin ini akan bertemu di depan pohon cinta.

Biasanya sang laki-laki membawa kabur sang perempuan selama 1 hari dan uniknya lagi keluarga perempuannya tidak boleh tahu proses penculikannya. Duh ada-ada saja ya hehe. Selanjutnya pihak keluarga laki-laki akan datang ke rumah pihak perempuan, dan pernikahan bisa dilangsungkan.
Masih berhubungan dengan pernikahan nih, jadi sang perempuan di Dusun Sade diizinkan menikah apabila sudah bisa menenun. Serius? Iya, karena menurut mereka perempuan yang sudah bisa menenun sudah bisa belajar ketekunan dan kesabaran yang nantinya dibutuhkan saat berumah tangga.
Para perempuan di Dusun Sade belajar menenun sejak kecil, biasanya mulai usia 9 tahun. Hasil tenunnya juga mereka jual langsung di depan rumah mereka, jadi kalian bisa membeli langsung dari penenunnya.

Sungguh dibutuhkan kesabaran dan ketekunan. Biasanya untuk menyelesaikan 1 buah kain dibutuhkan waktu 2 minggu untuk motif biasa, kalau motifnya rumit bahkan bisa sampai 1 bulan. Luar biasa ya, salut dengan para perempuan Dusun Sade.
Bagi kalian yang penasaran, anak-anak Dusun Sade bagaimana pendidikannya, jadi penduduk Dusun Sade menyekolahkan anak-anak di sekolah umum, sama saja seperti di sini. Bahkan ada juga yang meneruskan sampai perguruan tinggi. Nah begitu rasanya berkeliling Dusun Sade, untuk tour guide kalian bisa memberi tip seikhlasnya ya.
Selanjutnya kami menuju villa, kurang lebih 15 menit dari Dusun Sade. Sekitar pukul 17.00 sampai di villa, kami langsung disambut oleh staff villa dan disajikan welcome drink. Kesan pertama masuk ke villa, sangat sejuk hehe.
Setelah ditunjukkan kamarnya kami langsung menyimpan barang dan istirahat sebentar. Malam harinya kami pergi ke Kuta sekadar berkeliling dan makan malam. Di sini pusatnya tempat makan mulai dari yang sederhana sampai yang kece. Kalian tinggal pilih saja hehe. Ada bar dan juga toko oleh-oleh.

FYI kami menyewa motor dari villa selama 3 hari biayanya 210 ribu rupiah. Motor yang kami sewa tipe automatic 110cc. Kalian juga bisa kalau mau motor yang 150cc. Harganya bisa disesuaikan. Kami menghabiskan kurang lebih 100 ribu rupiah untuk bahan bakar selama 3 hari.
Keesokan harinya kami pergi ke Pantai Pink Lombok Timur, kira-kira ditempuh selama 1 setengah jam. Di perjalanan kami disuguhkan pemandangan kebun tembakau dan jalan yang berkelok, karena disini jalannya seperti membelah perbukitan.
Ada yang unik, saat itu kami sudah dekat dengan lokasi pantai, ada kawanan monyet menyeberang jalan, ya saya dan pengendara motor lainnya juga ikut berhenti menunggu mereka lewat, setelah itu lanjut lagi. ga lucu ya ? yaudahlah haha.

Tiket masuk Pantai Pink yaitu 10 ribu rupiah/orang untuk wisatawan lokal, 25 ribu rupiah untuk wisatawan mancanegara. Pantainya indah, bersih, masih sepi, pasirnya betulan warna pink, bentuknya mirip butiran merica. Kalian tidak perlu khawatir karena di pantai ini sudah tersedia toilet, dan warung makan juga.
Setelah puas menikmati pantai, kami menuju ke Pantai Seger, di lokasi ini juga terdapat patung Putri Mandalika. Pantai ini jadi favorit wisatawan untuk surfing. Di pinggir pantai banyak warung dan pengunjung yang piknik bersama keluarga.
Sedikit cerita ya tentang legenda Putri Mandalika, karena kecantikannya beliau diperebutkan beberapa pangeran. Konon, sang Putri menceburkan dirinya ke laut untuk menghindari peperangan para pangeran tersebut yang ingin mempersuntingnya.

Masyarakat setempat percaya kalau sang putri menjelma menjadi cacing laut. Patung ini ada kaitannya dengan tradisi Bau Nyale, di mana masyarakat akan berlomba untuk menangkap cacing laut di Pantai Seger. Festival Bau Nyale juga menarik wisatawan lokal dan macanegara. Kalau kalian mau menonton langsung bisa berkunjung bulan Februari.
Pukul 15.00 kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Tanjung Aan. Maaf saya lupa harga tiket masuknya hehe. Di sini pengunjungnya tidak begitu ramai. Banyak juga anak-anak yang bermain pasir pantai. Angin di pantai ini sepoi-sepoi. Cocok sambil duduk santai di atas ayunan hehe.

Selanjutnya kami menuju ke Bukit Merese pukul 17.00 yang lokasinya tak jauh dari Pantai Tanjung Aan. Kalian bisa berjalan kaki dari pantai ini atau naik kendaraan. Indah sekali pemandangannya terlihat dari kejauhan matahari terbenam perlahan dibalik perbukitan, terdengar suara deburan ombak yang tenang. Aduh semakin betah rasanya tidak ingin pulang haha.
Keesokan harinya kami menuju ke Pantai Selong Belanak. Perjalanannya sekitar 30 menit dari villa. Masih dengan jalan yang berkelok-kelok hehe. Pemandangannya perbukitan, rumah penduduk, penginapan, warung dll. Sepertinya di sini cukup membayar parkir kendaraan (CMIIW).
Pantai yang satu ini juga terkenal sebagai salah satu tempat untuk surfing dan kalau kalian berminat untuk belajar surfing di sini ada surf school. Pantai ini lebih ramai dari pantai sebelumnya. Wisatawan mancanegara juga lebih dominan.

Di sepanjang bibir pantai mereka berjemur, bermain voli, membaca buku atau sekadar berjalan menyusuri pantai. Ada juga yang sibuk photoshoot haha. Yang unik di pantai ini kalian bisa menyaksikan langsung ternak kerbau milik penduduk lokal yang lewat di pinggir pantai hehe.
Perjalanan kami lanjutkan ke Pantai Mawun, semakin siang semakin panas nih. Pantai ini kira-kira 10 menit dari Pantai Selong Belanak. Saat itu ombaknya lumayan besar, kami hanya duduk-duduk di bawah payung-payungan di pinggir pantai.
Di pantai ini lebih sepi dibandingkan Pantai Tanjung Aan, tapi sudah tersedia warung dan toilet. Rasanya enggan beranjak pergi mendengar suara ombak duet bersama angin pantai hehe.

Setelah bersantai kami melanjutkan perjalanan ke kota Mataram untuk membeli oleh-oleh. Kami memilih Phoenix food yang lokasinya tak jauh dari Pasar Cakranegara untuk membeli beberapa makanan khas Lombok, seperti dodol rumput laut, manisan, sambal Encim, dan berbagai macam keripik.

Ya sampailah pada hari terakhir kami di Lombok. Mari kita tutup dengan sunrise di Pantai Kuta Mandalika hehe. Kami datang cukup pagi dan pantainya masih sepi. Dan ternyata airnya sedang surut, banyak masyarakat yang sedang mengumpulkan keong kecil gitu. Kami duduk-duduk santai sambil menonton mereka dari kejauhan hehe.
Pantai ini fasilitasnya lebih rapi, karena termasuk dalam Kawasan Ekonomi Khusus dan salah satu destinasi wisata dari 10 Bali Baru yang dikelola pemerintah. Fasilitas itu seperti penginapan di dekat pantai, toilet, tempat ibadah, tempat parkir, warung makan, tempat bermain anak dll. Kalian juga bisa olahraga pagi di sini, udaranya sejuk dan tempatnya bersih.

Serunya lagi pagi itu kami menyaksikan langsung proses air laut pasang, gelombang air lautnya perlahan datang sampai ke bibir pantai. Masyarakat yang mengumpulkan keong-keong tadi juga mulai berjalan ke daratan hehe. Mereka menyimpan keong-keongnya di dalam ember. Lumayan dapat banyak juga lho.
Sekitar pukul 08.00 pagi kami kembali ke villa untuk sarapan, setelah itu bersiap karena kami akan kembali ke Jakarta. Waktu berlalu begitu cepat ya hehe. Terima kasih untuk staff villa yang ramah, sudah melayani kami selama menginap, tempatnya nyaman dan menu sarapannya oke hehe.
Liburan kali ini sangat berkesan bagi kami, kebetulan ini kali pertama kami berkunjung ke Lombok. Matur tampiasih Lombok. Kau begitu indah. Sampai jumpa di lain waktu.
